Budidaya Porang
Perkembangan Tanaman pertumbuhan porang 3 sampai 4 kali dalam satu musim
Tanaman Porang tengah popular dibicarakan di tengah masyarakat Banyak pihak yang tertarik untuk membudidayakan tanaman ini, karena tanaman porang merupakan tanaman yang kaya manfaat dan memiliki nilai bisnis yang tinggi. Bahkan sejak tahun 2018, porang telah diekspor 4 negara yaitu Jepang, Vietnam, Australia, dan Tiongkok.
Porang (Amorphophallus muelleri Blune) adalah salah satu jenis tanaman iles-iles, yang menghasilakan umbi yang mengandung glucomannan yang memiliki banyak manfaat di bidang industri dan kesehatan. Glukomannan merupakan serat alami yang larut dalam air, biasa digunakan sebagai aditif makanan, sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuat lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.
Melihat beragam manfaat yang sangat besaar dan potensi bisnis yang masih sangat terbuka lebar, terutama dari segi permintaan konsumen yang tinggi namun belum bisa dipenuhi oleh produsen di Indonesia. Sehingga besar peluang membudidayakan tanaman porang dan menjadikannya ladang bisnis yang menjanjikan.
Tanaman Porang pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman Porang dapat berhasil dengan baik dan menghasilkan umbi tanaman yang berkualitas maka perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat-syarat tumbuh tanaman Porang, antara lain :
- Tanaman Porang mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Tanaman Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 700 M dpl. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 - 600 M dpl.
- Untuk hasil yang baik, tanaman Porang menghendaki tanah yang gembur dan subur serta tidak becek (tergenang air). Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 - 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja.
- Tanaman porang membutuhkan naungan untuk tumbuh secara optimal. Dan Naungan yang ideal adalah jati, mahoni, sono dan lainnya. Kepadatan naungan minimum antara 40% - 60 %.
Teknis Budidaya Tanaman Porang :
- Persiapan Bibit
Tanaman Porang berkembang biak secara generatif dan vegetatif. Secara generatif menggunakan bubil/katak yang terdapat di katak Porang. Sedangkan secara vegetatif yakni dengan menggunakan umbi/anakan.
Kebutuhan bibit per satuan luas sangat tergantung pada jenis bibit yang digunakan dan jarak tanam. Dengan prosentase tumbuh benih da atas 90%, kebutuhan benih per hektar dengan jarak tanam 1 m×0,5 m adalah :
Umbi : 1.500 kg ( ¬+20-30 buah/kg)
Biji : 300 kg
Bubil : 350 kg( +170-175 buah/kg)
- Persiapan lahan
- Lahan Datar, bersihkan lahan tersebut dari semak-semak liar atau gulma. Kemudian buatlah guludan dengan lebar kurang lebih 50 cm dengan tinggi 25 cm dengan panjang bisa disesuaikan dengan lahan yang ada.
- Lahan Miring, tetap perlu dibersihkan namun tidak perlu diolah. Tinggal buat saja lubang tempat untuk ruang tumbuhnya bibit porang yang nantinya dilaksanakan pada saat penananaman.
- Penanaman
Waktu penanaman dari bubuk/katak dan umbi, pada saat musim kemarau tanpa harus disemaikan. Di dalam lubang + 30 cm x 30 cm. Dengan jarak tanam sebesar 35- 70 cm.Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan penyiangan, pemupukan, pendangiran, dan pengamanan pohon pelindung.
Untuk mencapai pertumbuhan dan produksi maksimum, perawatan intensif dapat dilakukan dengan penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma yang mungkin merupakan pesaing tanaman dalam hal kebutuhan air dan nutrisi.
- Pemeliharaan
Untuk mencapai pertumbuhan dan produksi maksimum, perawatan intensif dapat dilakukan dengan penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma yang mungkin merupakan pesaing tanaman dalam hal kebutuhan air dan nutrisi.
Penyiangan harus dilakukan sebulan setelah menanam umbi Porang. Penyiangan berikutnya dilakukan saat ada gulma yang muncul. Gulma yang sudah disiang lalu ditimbun di dalam lubang untuk dijadikan pupuk organik.
Tanaman porang merupakan tanaman yang butuh naungan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengamanan dan pemeliharaan terhadap pohon pelindung agar dapat tumbuh dengan baik.
- Pemanenan
Pemanenan tanaman Porang dapat dilakukan setelah ditandai dengan layu dan keringnya daun, batang yaitu setelah berumur 2- 3 tahun. Pemanenan dapat dilakukan secara manual yakni membongkar umbi dari dalam tanah menggunakan sekop/linggis atau cangkul dengan jarak galian 30 cm dari pohon Porang. Umbi yang dipanen adalah umbi besar yang beratnya lebih dari 2 kg/umbi. Pada proses galian, diusahakan umbi jangan sampai terluka karena dapat merusak umbi dan menurunkan kadar glukoma.
Tanaman porang dapat dipanen untuk pertama kalinya sejak usia 2 tahun setelah tanam. Umbi yang dipanen adalah umbi besar dengan berat lebih dari 1 kg / umbi, sedangkan umbi kecil harus dipanen pada tahun berikutnya Setelah itu, tanaman dapat dipanen setahun sekali tanpa harus menanam kembali umbinya.
Ciri-ciri porang yang siap panen adalah saat daunnya sudah kering dan jatuh ke tanah. Sebatang pohon Porang dapat menghasilkan sekitar 2 kg umbi, dan dari sekitar 40.000 tanaman per hektar, 80 ton umbi dapat dipanen pada tahun kedua panen.
Setelah umbi dipanen dan kemudian dibersihkan dari tanah dan akar, umbi dipotong dan dijemur. Pemotongan umbi harus benar karena menentukan kualitas porang yang dihasilkan.
Disusun oleh : Verena Saptorini HM, S.P.



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar